Monday, September 26, 2011

Hati Saya Disengat Matahari;


Pagi minggu, macam rutin selalu saya bangkit dari lena dan terus saya terlantar dibalik jendela tingkat limabelas. Tanpa ada sesal akibat derita semalam, saya menghempas segala lelah di hujung bucu katil vantage biru bercadar safari.

Hari ini di bumi bangi, saya seperti dihimpit sang rindu. Terlentang kesepian dengan overdose Uphamol. Rumah ini kecil, ada dua bilik lena dan satu bilik air. Waktu saya disini kelmarin, saya di selubungi resah dan gelisah. Bila saya toleh dan renung masa silam yang sial itu, jiwa saya seperti dilanggar amukkan garuda berkaki ayam. Kepulan-kepulan anggan itu tercalar dan rabak macam ada dendam yang belum langsai.

Saya sedut minyak Cap Kapak dalam-dalam. Biar segala kekusutan penderitaan yang saya kemam selama ini hilang. Saat engkau baca entri saya ini, sebenarnya saya sudah mati disengat matahari.


6 comments:

Anonymous said...

perggghhh.... 'sejarah itu derita' namun mengharungi setiap detik peristiwa itu adalah suatu enigma y cukup membuatkan kita tersenyum...

Sang Tekukur said...

@Anonymous;

Tetap tersenyum, walaupun tawar & kelat.

iSmAiL sAllEh said...

Tempuh dengan tabah & hanya berserah....

Sang Tekukur said...

@Ismail Salleh;

Hanya berserah pada qada & qadar tuhan.

JoHn said...

Sabar itu penting... Tawakal itu wajip..

hak hak hak komen mcm aku bertaqwa sngt...

The Missed Calls said...

bentangkan rendu pada bunga yg subur... usah dikenang pd yg telah pergi